Beranda > Uncategorized > Kecanduan teknologi

Kecanduan teknologi

Teknologi berkembang dengan sangat cepat. Tiga puluh tahun yang lalu, komputer terkecil mungkin sebesar sebuah lemari pakaian. Kini, komputer mini ada di saku setiap orang yang Anda jumpai di jalan. Hal ini menyebabkan fenomena yang saya sebut dengan kecanduan teknologi. Contohnya, saya sering menjumpai wanita paruh baya di siang hari (pada jam kerja, sehingga saya asumsikan mereka tidak bekerja atau ibu rumah tangga) sedang asyik menggunakan BlackBerry™ di jalan atau di dalam angkot. Adik saya yang berumur sembilan tahun kerjanya bermain game di Nintendo® DS™ dan Facebook™. Bahkan saya menjumpai sebuah keluarga yang saat makan bersama, anak pertamanya disibukkan dengan perangkat laptop sedangkan anak kedua sibuk bermain PlayStation™ Portable. Ada juga artikel di Kompas yang ditulis oleh seorang ibu yang merasa kecanduan teknologi — ia merasa paranoid jika tidak memeriksa telepon selulernya setidaknya satu jam sekali, bahkan saat berlibur panjang. Belum lagi hasil survey yang menyatakan bahwa lebih dari lima puluh persen pegawai di Indonesia mengakses Facebook™ dari tempat kerjanya lebih dari tiga puluh menit per hari.

Fenomena kecanduan teknologi menjadi sebuah pemicu terjadinya perubahan budaya besar-besaran, salah satu contohnya adalah perubahan metode komunikasi: terdapat perbedaan metode komunikasi yang dianggap formal antara masa lalu dengan masa kini. Dulu, tidak sopan jika seorang mahasiswa menghubungi dosen melalui telepon seluler. Kini, bimbingan dapat dilakukan melalui Facebook™ atau bahkan instant messaging. Selain itu, batasan usia juga semakin tipis — kini siapa pun pada usia berapa pun dapat mengakses sumber informasi yang sama di Internet. Orang tua pada zaman dahulu dapat mengatur informasi apa yang boleh diketahui anaknya, yang dianggap sesuai dengan usianya. Kini, perihal informasi, anak sudah tidak dapat dibatasi lagi. Akibatnya, hubungan antar individu di dalam suatu keluarga tidak lagi seerat dulu.

Perubahan budaya ini tentu penting untuk dipelajari. Apa saja dampak positif dan negatif yang timbul? Secara global, apakah perubahan ini membawa peradaban manusia ke arah yang lebih baik atau lebih buruk? Secara umum saya akan menjawab bahwa dampak positifnya adalah terjadinya pemerataan informasi di setiap belahan dunia. Negara maju, berkembang, maupun yang masih tertinggal dapat memperoleh informasi yang sama, implikasinya kesempatan yang sama untuk berkembang. Namun, perubahan ini membawa dampak negatif terhadap eksistensi manusia sebagai makhluk sosial. Dengan perubahan ini, perilaku apatis meningkat, dan puncaknya adalah manusia merasa tidak membutuhkan sesama karena informasi dapat diperoleh secara anonim. Bahkan komunikasi dengan teman dilakukan melalui jejaring sosial di dunia maya, bukan tatap muka.

Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya ledakan perubahan budaya ini? Sebenarnya intinya ada pada pengendalian diri. Kendalikan diri sendiri untuk dapat mengendalikan teknologi, atau teknologi yang akan mengendalikan Anda.

  1. Sebelum membeli perangkat atau gadget terbaru, perhatikan benar-benar kebutuhan Anda. Kembali saya gunakan contoh pertama, dalam membeli telepon seluler, apa yang dibutuhkan seorang ibu rumah tangga? Jika hanya butuh layanan telepon, SMS, dan sesekali browsing, ponsel dengan harga di bawah dua juta rupiah pun dapat memenuhi kebutuhan itu, tidak perlu sampai membeli BlackBerry™ yang harganya di atas empat juta rupiah. Hindari membeli gadget karena tren atau gengsi. Lagi-lagi saya gunakan contoh BlackBerry™, yang mendadak populer setelah Barack Obama menggunakannya saat kampanye. Gengsi merupakan sikap yang sangat kekanak-kanakan. Penuhi kebutuhan, bukan keinginan.
  2. Terbukalah dengan anak atau adik yang masih pada usia sekolah. Sebisa mungkin temani di sisinya setiap ia menggunakan komputer, dan berikan bimbingan mengenai apa yang baik dan yang tidak baik dalam memanfaatkan teknologi. Berikan tuntunan secara nyata mengenai apa saja yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Jangan berikan komputer di tempat tertutup (misalnya di kamar tidur), pastikan Anda dapat mengawasi penggunaan komputer sambil tetap melakukan kegiatan Anda.
  3. Hindari sikap permisif. Misalnya Anda sudah membuat peraturan bahwa anak Anda hanya boleh menggunakan komputer untuk game pada hari Sabtu dan Minggu. Ketika pada suatu hari Jumat sang anak meminta izin untuk bermain game, jangan pernah berpikir, “boleh lah, sekali-sekali,” karena sikap permisif demikian akan membuat lunjakan. Patuhi peraturan yang Anda buat sendiri. Meskipun contoh yang diberikan mengenai anak, hal ini juga berlaku untuk aturan yang Anda buat untuk diri sendiri.
  4. Adakan tech-free day untuk diri Anda sendiri, lebih baik lagi jika Anda dapat mengajak keluarga dan teman. Tentukan satu hari dalam seminggu di mana Anda tidak boleh menggunakan teknologi secara berlebihan. Misalnya, “setiap hari Sabtu saya tidak boleh online dan hanya boleh menggunakan telepon seluler untuk layanan telepon dan SMS.” Gunakan waktu yang ada untuk bersosialisasi dengan keluarga dan teman melalui kegiatan-kegiatan seperti berolahraga, makan bersama, memancing, outbond, dan sebagainya. Ingatlah bahwa teknologi harus menjadi “budak” Anda, bukan Anda yang menjadi budak teknologi. Anda bisa hidup tanpa teknologi yang berlebihan.
  5. Biasakan untuk membaca buku dan koran dalam versi cetak, bukan digital. Semakin lama di depan komputer, Anda akan semakin ketagihan. Oleh karena itu sebisa mungkin lakukan hal yang dapat dilakukan tanpa komputer dengan tidak menggunakan komputer.

“Teknologi tidak dapat dihindari, namun kita harus punya kendali — demi generasi pengganti.”

Iklan
Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: