Beranda > Operating System > Midori, Virtualization, Cloud Computing, dan masa depan dunia kita

Midori, Virtualization, Cloud Computing, dan masa depan dunia kita

“Dunia kita” yang saya maksud adalah dunia informatika, sebagaimana saat ini kita sedang berada pada era informasi (information age).

Kali ini yag akan saya bahas berkenaan dengan hal-hal berikut: sistem operasi Microsoft Singularity & Midori, Microsoft Virtualization, cloud computing secara umum, dan kondisi bangsa kita dalam menghadapi itu semua.

Pada tahun 2003, Microsoft Research memulai sebuah proyek bernama Singularity, yang merupakan sebuah sistem operasi yang dibuat untuk keperluan riset. Kernel, driver, dan aplikasi untuk Singularity ditulis dalam managed code, yang berarti bahwa eksekusi tidak langsung dijalankan di CPU, melainkan diatur oleh sebuah sistem virtualisasi (seperti pada Java). Menurut Microsoft, proyek ini tidak akan dikomersilkan.

Namun, ada sebuah proyek turunan dari Singularity yang ber-codename Midori dan telah dikonfirmasi keberadaannya. Midori bukanlah Windows 7, Midori akan menjadi sistem operasi yang ‘menjunjung tinggi’ virtualisasi dan cloud computing. Microsoft sadar bahwa kernel Windows yang sudah berusia belasan tahun akan mati, sehingga untuk ke depannya mereka harus mempersiapkan kernel baru yang lebih ‘melek Internet’ (Internet tentu belum populer saat Microsoft mendesain kernel Windows). Microsoft mengatakan bahwa Midori tidak akan dirilis dalam waktu dekat ini, bahkan mungkin masih jauh setelah Windows 7. Belum juga diketahui apakah Midori akan dirilis dengan nama Windows, atau sebuah nama baru yang menandai perubahan besar dalam Microsoft. Baca di sini perihal teknis dari Microsoft Midori.

Perihal rilisnya Midori ini tidak menjadi concern saya, mengingat apa yang terjadi dengan Windows Vista dan Windows 7 serta produk-produk Microsoft pada umumnya. Yang penting adalah Microsoft telah mengangkat sebuah tema baru bagi masa depan sistem operasi, yang saya sebut dengan optimal utilization of the Internet. Sebagaimana yang saya dapatkan ketika MSDN Day di Bandung beberapa waktu lalu, Microsoft menyadari adanya revolusi sistem operasi yang dapat dicapai berkat berkembangnya apa yang kita sebut dengan Internet. Microsoft Virtualization, Windows Azure, dan adanya berita mengenai Midori membuktikannya. Cloud computing saat ini menjadi concern Microsoft, dan saya pribadi berpendapat, cloud adalah masa depan era informasi.

Apa sih cloud computing ini? Menurut IEEE, “Cloud Computing is a paradigm in which information is permanently stored in servers on the Internet and cached temporarily on clients that include desktops, entertainment centers, tablet computers, notebooks, wall computers, handhelds, sensors, monitors, etc.” Bahasa manusia-nya, dengan cloud, informasi dapat disimpan pada suatu server dan kemudian dapat diakses secara remote oleh pengguna dengan sistemnya sendiri (desktop, notebook etc.). Windows Azure, berdasarkan apa yang saya cerna pada MSDN Day, adalah sebuah sistem operasi untuk server dari cloud oleh Microsoft. Microsoft Virtualization juga merupakan sebuah solusi di mana bukan hanya data, melainkan aplikasi juga di-host di sebuah data center, dan pengguna mengaksesnya melalui jaringan.

Jelaslah bahwa dalam paradigma ini, Internet atau jaringan secara umumnya memegang peranan penting. Dengan cloud, setidaknya availibility dan consistency dari informasi terjamin. Dengan teknologi yang tepat, paradigma ini dapat diimplementasikan di negara-negara maju. Namun, bagaimana dengan Indonesia? Dengan bandwidth yang sangat terbatas dan mahal, akses informasi tidak semudah di negara lain. Saya teringat percakapan di dunia maya antara seorang teman saya di Indonesia (sebut saja Teman) dengan rekannya yang berada di Jerman (sebut saja Rekan):

Teman: Sambil memberikan sebuah URL, “coba deh lu download video ini, katanya keren loh.” Pada saat mengatakan ini, Teman tengah men-download video yang bersangkutan, sekitar 20% ter-download.

Rekan: Beberapa DETIK kemudian, “wah, iya keren banget… Lagi gw tonton nih.” Yang tentu saja menyatakan bahwa Rekan telah selesai men-download.

Teman: Masih menunggu proses download, bahkan belum 30%.

Nah, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika cloud diimplementasikan dan digunakan pada kehidupan sehari-hari di Indonesia dengan kondisi saat ini. Setiap business process akan berjalan dengan lambat, kecuali jika perusahaan rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar demi bandwidth. Yang saya bayangkan adalah kekacauan. Indonesia belum siap mendukung teknologi. Saya harap pada masa di mana teknologi untuk cloud computing sudah stabil, Indonesia sudah siap menerima kemajuan teknologi. Tapi jujur saya merasa pesimis.

P.S. saat ini Teman tinggal di Singapura dan tidak lagi merasakan miskinnya bandwidth di Indonesia.

Iklan
  1. anto bug's
    Desember 29, 2008 pukul 3:53 PM

    trus majukan informasi dunia IT….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: